KHUTBAH JUM'AT DENGAN GAYA CERAMAH
《448》KHUTBAH JUM'AT DENGAN GAYA CERAMAH
Apa hukumnya khutbah jum'at dengan gaya tangan seperti orang ceramah?
Jawaban
Hukumnya makruh.
Dan menurut seikhul Islam Zakaria al-Anshori, hal tersebut termasuk bid'ah (hal-hal baru) yang dilakukan oleh khotib-khotib yang kurang berpendidikan.
Referensi
Syekh Muhammad al-Khathib al-Syirbini menjelaskan sebagai berikut:
وَلِهَذَا يُسَنَّ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ فِي يَدِهِ الْيُسْرَى كَعَادَةِ مَنْ يُرِيدُ الْجِهَادَ بِهِ، وَيُشْغِلُ يَدَهُ الْيُمْنَى بِحَرْفِ الْمِنْبَرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ سَكَّنَ يَدَيْهِ خَاشِعًا بِأَنْ يَجْعَلَ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى أَوْ يُرْسِلَهُمَا
Artinya: "Untuk itu memegang tongkat/pedang dengan tangan kiri seperti tentara akan berperang, dan tangan kanannya memegang pinggiran mimbar, jika tidak ada pegangan maka khatib menenangkan tangannya dengan khusyu’ yakni dengan bersedekap tangan kanan di atas tangan kiri atau melepaskan keduanya."
(Mughnil Muhtaj, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1994], juz 1, hal. 557.).
Mengangkat tangan ketika khutbah juga pernah disinggung dalam hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya no. 874 berikut:
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ . قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ. فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ. لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ .
Artinya: "Dari Umarah bin Ru’aibah berkata aku melihat Bisyr bin Marwan di atas minbar mengangkat kedua tangannya, dan dia mengatakan “Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini, aku telah melihat Rasulullah tidak pernah berkata dengan tangan beilau melebihi ini, dan diberi isyarat dengan jari telunjuknya."
Imam Nawawi menafsirkan hadits ini sebagai bentuk kesunnahan bagi khatib untuk tidak mengangkat tangan ketika sedang berkhutbah sebagai berikut:
هَذَا فِيهِ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ لَا يَرْفَعَ الْيَدَ فِي الْخُطْبَةِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ
Artinya: "Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kesunnahan dalam khutbah adalah tidak mengangkat tangan, dan ini pendapat para pakar kita, dan imam Malik, serta yang lainnya."
(Yahya bin Syarf al-Nawawi, al-Minhaj, Syarh Sahih Muslim bin Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya Turats Arabi], juz 6, hal. 163.).
Bahkan banyak ulama yang menganggap tindakan ini sebagai bentuk kebodohan dalam khutbah yang dilakukan oleh khatib yang tidak terpelajar sebagaimana catatan Syekh Zakarya al-Anshari berikut:
وَيُكْرَهُ فِي الْخُطْبَةِ مَا ابْتَدَعَهُ الْخُطَبَاءُ الْجَهَلَةُ مِنْ الْإِشَارَةِ بِالْيَدِ أَوْ غَيْرِهَا
Artinya: "Makruh melakukan hal-hal yang diciptakan oleh khatib-khatib tidak berpendidikan seperti isyarat dengan tangan atau yang lainnya."
(Asnal Mathalib Syarh Raudhut Thalib, [Darul Kitab al-Islami], juz 1, hal. 260.).
Komentar
Posting Komentar