MUROQI SHOLAT JUM'AT ITU BID'AH
《466》MUROQI SHOLAT JUM'AT ITU BID'AH
Muroqi (atau muraqqi) adalah petugas yang mengantarkan khatib naik ke mimbar dan biasanya membacakan selawat, hadis, atau doa saat jeda khutbah Jumat.
Adanya muroqqi dalam sholat jum'at sunah atau bid'ah?
Jawaban
Mayoritas ulama mengatakan bahwa adanya muroqi dalam pelaskanaan sholat jum'at adalah bid'ah hasanah (bid'ah yang baik). Karen hal tersebut tidak dilakukan di masa Baginda Nabi Muhammad SAW dan masa Kholifah (pengganti) nya.
Hanya saja menurut Seikh Ibnu Hajar, adanya muroqqi bukan bi'ah tapi sunah, sebab dulu pas di arofah baginda nabi akan khutbah dan menjuk salah seorang sahabat agar menyuruh orang-orang diam.
Referensi
[سعيد باعشن ,شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ,ص ٣٩٦]
وفي "التحفة"، و"النهاية": إن قراءة المرقي آية (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ) [الأحزاب:56] ثم الحديث، بدعة حسنة؛ إذ فيه ترغيب للصلاة عليه صلى الله عليه وسلم، وتحذير من الكلام، وكان صلى الله عليه وسسلم يأتي بالخبر المذكور في خطبه، وهو صحيح.
Dalam "Tuhfah" dan "Nihayah": Sesungguhnya membacanya orang yang menjadi muroqi pada ayat
(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ) [الأحزاب:56]
(Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi) [al-Ahzab: 56] kemudian membaca hadits, adalah bid'ah hasanah; karena di dalamnya ada anjuran untuk bershalawat kepadanya (Nabi) SAW, dan peringatan dari berbicara (sia-sia), dan beliau SAW biasa membawakan khabar tersebut dalam khutbah-khutbahnya, dan itu shahih.
[Syarh al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah Hal 396]
[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٢٠٣/٢]
{تَنْبِيهٌ} : مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ اتِّخَاذِ مُمَرِّقٍ فِي زَمَنِنَا يَخْرُجُ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ يَقْرَأُ الْآيَةَ وَإِذَا فَرَغَ الْمُؤَذِّنُ قَرَأَ الْحَدِيثَ فَبِدْعَةٌ حَسَنَةٌ إذْ لَمْ تُفْعَلْ فِي زَمَنِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَيْنَ يَدَيْهِ، بَلْ كَانَ يُمْهَلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَجْتَمِعَ النَّاسُ فَإِذَا اجْتَمَعُوا خَرَجَ إلَيْهِمْ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ جَاوِيشٍ يَصِيحُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ فَعُلِمَ أَنَّ هَذِهِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ إذْ فِي قِرَاءَةِ الْآيَةِ تَرْغِيبٌ فِي الْإِتْيَانِ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ الْمَطْلُوبِ فِيهِ إكْثَارُهَا. وَفِي قِرَاءَةِ الْخَبَرِ بَعْدَ الْأَذَانِ وَقَبْلَ الْخُطْبَةِ تَيَقُّظٌ لِلْمُكَلَّفِ لِاجْتِنَابِ الْكَلَامِ الْمُحَرَّمِ أَوْ الْمَكْرُوهِ عَلَى اخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ.
"Adat yang berlaku sekarang, yaitu adanya seorang pembaca (muroqqi) yang keluar di hadapan khatib, membaca ayat Al-Qur'an, dan ketika muadzin selesai, dia membaca hadits, ini adalah bid'ah hasanah. Karena hal ini tidak dilakukan di zaman Nabi (saw) di hadapannya. Sebaliknya, beliau memberikan jeda waktu pada hari Jum'at hingga orang-orang berkumpul, lalu beliau keluar sendiri tanpa ada rombongan yang berseru-seru di hadapannya. Ketika masuk masjid, beliau mengucapkan salam kepada jamaah. Diketahui bahwa ini adalah bid'ah hasanah, karena membaca ayat Al-Qur'an dapat mendorong orang untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi (saw) pada hari yang agung ini, di mana banyak disunnahkan memperbanyak shalawat. Membaca hadits setelah adzan dan sebelum khutbah juga dapat membuat orang waspada untuk menjauhi perkataan yang haram atau makruh, sesuai dengan perbedaan pendapat ulama".
(Hasyiyah al-Bujairomi 'Ala al-Khotib 2/203)
[القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة، ٣٢٦/١]
(فَرْعٌ) اتِّخَاذُ الْمَرْقَى الْمَعْرُوفِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ لِمَا فِيهَا مِنْ الْحَثِّ عَلَى الصَّلَاةِ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقِرَاءَةِ الْآيَةِ الْمُكَرَّمَةِ وَطَلَبِ الْإِنْصَاتِ بِقِرَاءَةِ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ الَّذِي كَانَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقْرَؤُهُ فِي خُطَبِهِ وَلَمْ يَرِدْ أَنَّهُ وَلَا الْخُلَفَاءَ بَعْدَهُ اتَّخَذُوا مَرْقِيًّا. وَذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ أَنَّهُ لَهُ أَصْلًا فِي السُّنَّةِ وَهُوَ «قَوْلُهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حِينَ خَطَبَ فِي عَرَفَةَ لِشَخْصٍ مِنْ الصَّحَابَةِ اسْتَنْصِتْ النَّاسَ» .
"(Cabang) Membuat al-Marqo (muroqi) dianggap bidah hasanah karena dapat mendorong shalawat kepada beliau baginda Nabi Muhammad SAW, dengan membaca ayat yang mulia dan meminta diam dengan membaca hadits shahih yang biasa beliau baca dalam khutbahnya.
Tidak ada riwayat bahwa beliau atau khalifah setelahnya membuat muroqi.
Seikh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hal ini memiliki dasar dalam sunnah, yaitu sabda beliau baginda Nabi Muhammad SAW ketika berkhutbah di Arafah kepada salah seorang sahabat: "Suruhlah, manusia diam!".
[Qalyubi, Hashiyat Qalyubi wa 'Umira, 1/326]
Komentar
Posting Komentar