SUNAH DAN MAKRUH DALAM MEMBAWA JENAZAH
SUNAH DAN MAKRUH DALAM MEMBAWA JENAZAH
(MADZHAB SYAFI'IYAH)
Disunnahkan mengantar jenazah dan tidak meninggalkan jenazah sampai dimakamkan, berdasarkan hadits Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai dishalatkan, maka baginya satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai dimakamkan, maka baginya dua qirath. Ditanyakan, 'Apa dua qirath itu?' Beliau menjawab, 'Seperti dua gunung yang besar.'"
Disunnahkan berjalan kaki di depan jenazah, dekat dengan jenazah. Namun, diperbolehkan berjalan di mana saja asalkan dekat dengan jenazah, berdasarkan hadits Maghirah bin Shu'bah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang menunggang kuda berjalan di belakang jenazah, sedangkan orang yang berjalan kaki boleh berjalan di depan, di belakang, di kanan, dan di kiri jenazah, asalkan dekat dengan jenazah."
Salim meriwayatkan dari ayahnya RA, ia berkata: "Aku melihat Nabi SAW, Abu Bakr, dan Umar berjalan di depan jenazah." Hal ini karena orang yang mengantar jenazah adalah pemberi syafaat bagi mayit, dan pemberi syafaat lebih utama berjalan di depan orang yang diberi syafaat.
Di makruhkan berbicara sia-sia saat mengantar jenazah, mengantar jenazah dengan ratapan atau membawa api, berdasarkan riwayat dari Amr bin al-Ash RA, ia berkata saat menjelang wafat: "... Jika aku telah meninggal, janganlah kalian mengantarkan aku dengan ratapan dan api..."
Juga di makruhkan wanita mengantar jenazah, berdasarkan riwayat dari Umm Attiyah RA, ia berkata: "Kami dilarang mengantar jenazah, namun tidak diwajibkan atas kami."
Di makruhkan menunggang kendaraan saat mengantar jenazah, kecuali ada udzur. Namun, jika menunggang kendaraan saat kembali, tidak apa-apa, berdasarkan riwayat Jabir bin Samurah RA: "Nabi SAW mengantar jenazah Abu al-Dahdah RA dengan berjalan kaki, lalu kembali dengan menunggang kuda."
Referensi
يستحب اتباع الجنازة، وعدم الانصراف حتى يدفن، لما روى أبو هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من شهد الجنازة حتى يصلى عليها فله قيراط، ومن شهدها حتى
تدفن فله قيراطان، قيل وما القيراطان؟ قال: مثل الجبلين العظيمين".
ويسن المشي أمامها قريباً منها، على أنه يجوز له المشي حيث شاء قريباً منها، لحديث المغيرة بن شعبة رضي الله عنه المتقدم بعضه وفيه: "الراكب يسير خلف الجنازة، والماشي يمشي خلفها وأمامها، وعن يمينها، وعن يسارها، قريباً منها". وروى سالم عن أبيه رضي الله عنهما قال "رأيت النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر يمشون أمام الجنازة" ولأنه شفيع الميت، والشفيع يتقدم المشفوع.
ويكره اللغط فيها، واتباعها بنائحة أو نار، لما روي عن عمرو بن العاص رضى الله عنه أنه قال وهو في سياقة الموت : " ... فإذا أنا مت فلا تصحبني نائحة ولا نار ... ".
كما يكره اتباع النساء للجنازة، لما روت أم عطية رضى الله عنها قالت: "نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا ".
ويكره الركوب في الذهاب معها إلا لعذر، فإن ركب في الانصراف لم يكن به بأس، لما روى جابر بن سمرة رضى الله عنه "أن النبي صلى الله عليه وسلم اتبع جنازة أبي الدحداح رضي الله عنه ماشياً ورجع على فرس".
[درية العيطة ,فقه العبادات على المذهب الشافعي ,١/٥٠٠]
#ngajifiqih #ngaji #fiqihjenazah
Komentar
Posting Komentar