ANAK YANG BELUM DI AQIQAHI TIDAK MEMBERI SYAFA'AT KEPADA ORTU

 《500》ANAK YANG BELUM DI AQIQAHI TIDAK MEMBERI SYAFA'AT KEPADA ORTU


Apakah benar anak yang belum di aqiqahi tidak bisa memberi syafa'at kepada orang tua nya?


Jawaban

Dalam hal ini sebenarnya ada perbedaan pendapat dari para ulama.

Dan pendapat seperti yang dipertanyaakan itu, merupakan pendapat  Imam Ahmad  bin Hanbal dan dipilih oleh Seikh al-Khotobi. 


Oleh karena itu, Seikh al-Bujairomi sampai berkata demikian: Bagi orang yang mengharapkan syafaat anaknya, hendaknya melakukan aqiqah untuk anaknya, meskipun anak tersebut telah meninggal. 


Namun pendapat ini dipertentangkan oleh Seikh Ibnu Qoyyim dan di sampaikan oleh seikh al-Bujairomi dan seikh Al-Munawi dalam kitabnya.


Biar kita tau masing-masing pendapat ulama akan hal ini, coba kita pahami ibarot-ibarot berikut. 

Mudah-mudahan cukup mewakili, dan saya runtut dari kitab yang kontemporer hingga kitab yang lebih sepuh kurun masa nya. 


[مجموعة من المؤلفين، الموسوعة الفقهية الكويتية، ٢٧٧/٣٠]

وَاسْتَدَل الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى كَوْنِهَا سُنَّةً مُؤَكَّدَةً بِأَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ (3) ، مِنْهَا: حَدِيثُ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: الْغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ (4) وَفِي رِوَايَةٍ: كُل غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى. (5)

وَمَعْنَى " مُرْتَهَنٌ " " وَرَهِينٌ " قِيل: لاَ يَنْمُو نُمُوَّ مِثْلِهِ حَتَّى يُعَقَّ عَنْهُ


"Syafi'iyah dan Hanabilah berdalil bahwa aqiqah adalah sunnah muakkad dengan banyak hadits, di antaranya: Hadits Samurah bin Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Anak laki-laki itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqah) pada hari ketujuh.' 

Dalam riwayat lain, 'Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.'


Makna 'tergadai' (murtaḥan/rahīn) di sini adalah tidak akan tumbuh seperti seharusnya sampai aqiqahnya dilaksanakan."

[al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 30/277]


[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ٥٦/٣]

ودليل ذلك ما رواه أبو داود في [الأضاحي ـ باب ـ ما جاء في العقيقة، رقم: 1522] وغيره عن سمرة - رضي الله عنه -، قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " الغلام مرتهن بعقيقته، يذبح عنه يوم السابع، ويسمى ويحلق رأسه".

ومعنى مرتهن بعقيقته: أي أن تنشئته تنشئة صالحة، وحفظه حفظاً كاملاً مرهون بالذبح عنه.

وقيل المعنى: لا يشفع بوالديه يوم القيامة إن لم يُعق عنه.


Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud  dan lainnya, dari Sammurah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Anak laki-laki itu tergadai dengan aqiqahnya, maka disembelihlah (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dan diberi nama, dan dicukur rambutnya.'"


Makna "tergadai dengan aqiqahnya" adalah bahwa pertumbuhan/perkembangan yang baik dan penjagaan anak yang sempurna itu tergantung dengan aqiqah. 


Sedangkan pendapat lain mengatakan, anak itu tidak bisa memberikan syafaat kepada orang tuanya di hari kiamat jika tidak diaqiqahi.

 [al-Fiqh al-Manhaji 'ala al-Madzhab Imam Shafi'i, 3/56]


[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٣٨١/٢]

وقد جاء فيها أخبار كثيرة، منها خبر: الغلام مرتهن بعقيقته، تذبح عنه يوم السابع، ويحلق رأسه ويسمى رواه الترمذي.

والحكمة فيها إظهار البشر، والنعمة، ونشر النسب.

ومعنى مرتهن بها.

قيل: لا ينمو نمو مثله حتى يعق عنه.

قال الخطابي: وأجود ما قيل فيها ما ذهب إليه الإمام أحمد بن حنبل: أنه إذا لم يعق عنه لم يشفع لوالديه يوم القيامة أي لم يؤذن له فيها.


Terdapat banyak hadis yang menjelaskan tentang aqiqah, di antaranya hadis: "Anak kecil itu tergadai dengan aqiqahnya, maka sembelihlah aqiqah untuknya pada hari ketujuh, dan cukurlah rambutnya, serta berilah nama." (HR. Tirmidzi)


Hikmah di balik aqiqah adalah untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat kelahiran, menyebarkan kabar gembira, dan memperkuat hubungan kekerabatan.


Makna "tergadai dengan aqiqahnya" adalah anak tersebut tidak akan tumbuh dengan sempurna seperti anak lainnya hingga aqiqahnya disembelih.


Al-Khottabi mengatakan, "Penjelasan terbaik tentang hal ini adalah apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu jika orang tua tidak melakukan aqiqah untuk anaknya, maka anak tersebut tidak akan diizinkan untuk memberi syafaat bagi orang tuanya pada hari kiamat." 

[Al-Bakri Al-Daimati, I'anah at-Thalibin, 2/381]


[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٢٩٠/٢]

وَقَدْ وَرَدَ: «أَنَّ الْوَلَدَ يَشْفَعُ لِأَبَوَيْهِ» وَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ذَنْبٌ أَشْبَهَ الْعُلَمَاءَ وَالشُّهَدَاءَ فَإِنَّ لَهُمْ حَظًّا فِي الشَّفَاعَةِ، فَلْيَكُنْ هَذَا أَوْلَى؛ لَكِنْ صَحَّ: «كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ» الْحَدِيثُ، وَفَسَّرَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ بِأَنَّ مَنْ لَمْ يَعُقَّ عَنْهُ لَمْ يَشْفَعْ لِوَالِدَيْهِ، وَاسْتَحْسَنَهُ الْخَطَّابِيُّ؛ فَيَنْبَغِي لِمَنْ يَرْجُو شَفَاعَةَ وَلَدِهِ أَنْ يُعِقَّ عَنْهُ وَلَوْ بَعْدَ مَوْتِهِ وَعَبَّرَ عَنْ عَدَمِ الشَّفَاعَةِ بِالِارْتِهَانِ لِأَنَّ الْمُرْتَهَنَ مَحْبُوسٌ غَالِبًا عِنْدَ رَاهِنِهِ فَلَا يَشْفَعُ، فَشُبِّهَ مَنْ لَمْ يُعَقَّ عَنْهُ بِمَرْهُونٍ تَعَطَّلَ الِانْتِفَاعُ بِهِ اهـ مُلَخَّصًا مِنْ شَرْحِ الْعُبَابِ لِابْنِ حَجَرٍ.


Telah diriwayatkan bahwa anak dapat memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya. Hal ini dapat dipahami karena anak yang tidak memiliki dosa menyerupai ulama dan syuhada, yang memiliki bagian dalam syafaat. Maka, anak yang tidak memiliki dosa ini lebih utama untuk dapat memberikan syafaat bagi orang tuanya.


Namun, ada hadis yang sahih yang menyatakan, "Setiap anak laki-laki tergadai dengan aqiqahnya." Hadis ini dijelaskan oleh Imam Ahmad dan lainnya bahwa anak yang tidak diaqiqah tidak akan dapat memberikan syafaat bagi orang tuanya. Penjelasan ini disukai oleh Al-Khattabi.


Oleh karena itu, bagi orang yang mengharapkan syafaat anaknya, hendaknya melakukan aqiqah untuk anaknya, meskipun anak tersebut telah meninggal. 

Ketidakmampuan memberikan syafaat ini diibaratkan dengan "tergadai" karena sesuatu yang tergadai biasanya ditahan dan tidak dapat memberikan manfaat. Dengan demikian, anak yang tidak diaqiqah diibaratkan seperti sesuatu yang tergadai dan tidak dapat memberikan manfaat (syafaat) bagi orang tuanya.

[Hasyiyah al-Bujairomi  'ala al-Khotib 2/290]


[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٣٤١/٤]

فَصْلٌ: فِي الْعَقِيقَةِ وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِلْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ مِنْهَا خَبَرُ: «الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ. وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى» وَمِنْهَا: «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُودِ يَوْمَ سَابِعِهِ وَوَضْعِ الْأَذَى عَنْهُ وَالْعَقِّ» رَوَاهُمَا التِّرْمِذِيُّ؛ وَمَعْنَى مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ قِيلَ لَا يَنْمُو نُمُوَّ مِثْلِهِ. وَقِيلَ: إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْهُ لَمْ يَشْفَعْ لِوَالِدَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. 

قَوْلُهُ: (مُرْتَهَنٌ) بِصِيغَةِ اسْمِ الْمَفْعُولِ أَيْ مَحْبُوسٌ فَشَبَّهَهُ بِعَدَمِ انْفِكَاكِهِ مِنْهَا بِالرَّهْنِ فِي يَدِ مُرْتَهِنٍ يَعْنِي إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْهُ فَمَاتَ طِفْلًا لَا يَشْفَعُ فِي أَبَوَيْهِ كَذَا نَقَلَهُ الْخَطَّابِيُّ عَنْ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَاسْتَجْوَدَهُ وَتَعَقَّبَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ بِأَنَّ شَفَاعَةَ الْوَلَدِ فِي وَالِدِهِ لَيْسَتْ بِأَوْلَى مِنْ الْعَكْسِ وَبِأَنَّهُ لَا يُقَالُ لِمَنْ يَشْفَعُ فِي غَيْرِهِ إنَّهُ مُرْتَهَنٌ فَالْأَوْلَى أَنْ يُقَالَ: إنَّ الْعَقِيقَةَ سَبَبٌ لِفِكَاكِهِ مِنْ الشَّيْطَانِ، الَّذِي طَعَنَهُ حَالَ خُرُوجِهِ فَهِيَ تَخْلِيصٌ لَهُ مِنْ حَبْسِ الشَّيْطَانِ لَهُ فِي أَسْرِهِ وَمَنْعُهُ لَهُ فِي سَعْيِهِ فِي مَصَالِحِ آخِرَتِهِ. اهـ. مُنَاوِيٌّ عَلَى الْخَصَائِصِ.

قَوْلُهُ: (وَقِيلَ: إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْهُ إلَخْ) قَالَ الْخَطَّابِيُّ: هَذَا أَجْوَدُ مَا قِيلَ فِيهِ: وَهُوَ تَفْسِيرُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَإِحَاطَتُهُ بِالسُّنَّةِ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَقُلْهُ إلَّا عَنْ تَوْقِيفٍ ثَبَتَ فِيهِ شَرْحُ م ر.

قَوْلُهُ: (لَمْ يَشْفَعْ لِوَالِدَيْهِ) أَيْ مَعَ السَّابِقِينَ أَيْ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فِي الشَّفَاعَةِ وَإِنْ كَانَ أَهْلًا لَهَا لِكَوْنِهِ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ، وَالْأَوْلَى قِرَاءَةُ وَالِدِيهِ بِكَسْرِ الدَّالِ فَيَشْمَلُ الْوَالِدَ وَإِنْ عَلَا سَوَاءٌ كَانَ مِنْ جِهَةِ الْأَبِ أَمْ الْأُمِّ. ع ش عَلَى الْمَنْهَجِ قَالَ الشَّوْبَرِيُّ: وَانْظُرْ إذَا عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ هَلْ يَشْفَعُ فِي أَبَوَيْهِ أَوْ لَا.


Fasal menjaskan aqiqah, aqiqah itu hukumnya sunah muakad.

Berdasarkan hadis-hadis yang datang tentang hal itu, di antaranya hadis: "Anak laki-laki itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberi nama." Dan di antaranya: "Bahwa Nabi SAW memerintahkan untuk memberi nama anak yang baru lahir pada hari ketujuh, menghilangkan kotoran darinya, dan melakukan aqiqah." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)


Makna "tergadai dengan aqiqahnya" ada yang mengatakan: "Tidak akan tumbuh seperti tumbuhnya anak-anak lain." Ada juga yang mengatakan: "Jika tidak diaqiqahi, maka tidak akan memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya pada hari kiamat."


Perkataan (مُرْتَهَنٌ) dengan bentuk isim maf'ul, artinya tertahan, sehingga disamakan dengan tidak terlepas darinya seperti barang gadaian yang ada di tangan orang yang menggadaikan. Artinya, jika tidak diaqiqahi, maka jika ia meninggal saat masih kecil, tidak akan memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya. Begitulah yang dinukil oleh Khattabi dari Imam Ahmad, dan ia menganggapnya baik.


Namun, Ibn Qayyim menentang hal ini dengan mengatakan: "Syafaat anak bagi orang tuanya tidak lebih utama daripada sebaliknya. Dan tidak dikatakan bagi orang yang memberikan syafaat bagi orang lain bahwa ia tergadai. Oleh karena itu, lebih baik dikatakan bahwa aqiqah adalah sebab untuk melepaskan anak dari godaan setan yang menusuknya saat keluar dari rahim ibunya. Aqiqah adalah pembebasan bagi anak dari belenggu setan yang menahannya dan menghalanginya dari melakukan kebaikan untuk akhiratnya." (Munawi pada Al-Khasais)


Perkataan (وَقِيلَ: إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْهُ إلَخْ) Khattabi berkata: "Ini adalah penafsiran terbaik tentang hal itu, dan merupakan tafsir dari Ahmad bin Hanbal. Pengetahuan beliau tentang sunnah menunjukkan bahwa beliau tidak mengatakannya kecuali berdasarkan dalil yang kuat."


Perkataan (لَمْ يَشْفَعْ لِوَالِدَيْهِ) Artinya, tidak diizinkan untuk memberikan syafaat, meskipun ia berhak untuk itu karena kecilnya atau besarnya, dan ia termasuk orang yang saleh. Lebih baik membaca "والديه" dengan kasrah pada huruf dal, sehingga mencakup ayah dan ibu, baik dari pihak ayah maupun ibu. (Ucapan Syaikh pada Al-Minhaj)


Syaikh Shawbari berkata: "Perlu dilihat, jika seseorang melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri, apakah ia dapat memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya atau tidak." ?

[Hasyiyah al-Bujairomi 'Ala al-Khotib 4341]


[المناوي، فيض القدير، ٤١٥/٤]

٥٨١٩. (الغلام) أصله الشاب من الناس من الغلمة وهي شدة طلب النكاح وهيجان شهوته لكن المراد هنا المولود (مرتهن بعقيقته) أي هي لازمة له فيشبه في عدم انفكاكه منها بالرهن في يد مرتهنه يعني إذا لم يعق عنه فمات طفلا لا يشفع في أبويه كذا نقله الخطابي عن أحمد واستجوده وتعقب لأنه لا يقال لمن يشفع في غيره مرهون فالأولى أن يقال إن العقيقة سبب لانفكاكه من الشيطان الذي طعنه حال خروجه فهي تخليص له من حبس الشيطان له في أسره ومنعه له من سعيه في مصالح آخرته فهي سنة مؤكدة عند الشافعي ومالك للحديث المذكور


"(Al-ghulam) asalnya berarti orang muda yang memiliki hasrat seksual kuat, tapi di sini maksudnya adalah bayi yang baru lahir. (Martaḥan bi-'aqīqatihi) artinya aqiqah itu wajib bagi si bayi, seperti barang gadaian yang tidak bisa lepas dari pegangan pemiliknya. Artinya, jika tidak diaqiqahi lalu meninggal, maka tidak bisa memberi syafaat bagi orang tuanya. 

Penafsiran ini dikutip dari Al-Khuṭṭhābi dari Ahmad, dan dia menilai bagus. Namun ada sanggahan, karena istilah 'martaḥan' tidak tepat digunakan untuk orang yang memberi syafaat untuk orang lain. Penafsiran yang lebih tepat: aqiqah adalah sebab untuk melepaskan bayi dari belenggu setan yang menusuknya saat lahir. Aqiqah adalah pembebasan dari cengkeraman setan yang menghalangi upaya si bayi untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu, aqiqah hukumnya sunnah muakkad menurut Syafi'i dan Malik, berdasarkan hadits yang disebutkan."

[Faidh al-Qodir 4/415]

والله أعلم بالصواب 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

K.H.R Abdul Karim

Keluarga Aj dudu

Neneng Siti maemunah