PENAMBAHAN PADA GERAKAN SHOLAT
《484》PENAMBAHAN PADA GERAKAN SHOLAT
Apa saja penambahan pada sholat yang dapat mempengaruhi keabsahan sholat?
Jawaban
Berikut detail penambahan pada sholat dalam keterangan fiqhul 'Ibadat Madzhab Syafi'i:
- الزيادة على أفعال الصلاة:
(1) إن كان الفعل من جنس أفعال الصلاة، بأن زاد ركوعاً أو غيره من الأركان الفعلية (ولا تقاس زيادة الركن القولي، على زيادة الركن الفعلي، فتكرار قراءة الفاتحة لا يبطل الصلاة لأنه لا يغير نظمها، لأنه تكرار ذكر فهو كما لو قرأ السورة بعد الفاتحة مرتين. ويستثنى من ذلك السلام فزيادته عمداً تبطل)
آ- فإن كان عامداً بطلت صلاته قل العمل أو كثر لأنه متلاعب بالصلاة.
ب- وإن كان ناسياً لم تبطل قل العمل أو كثر، لحديث عبد الله رضي الله عنه " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى الظهر خمساً فقيل له: أزيد في الصلاة؟ فقال: (وما ذاك؟) قال: صليت خمساً، فسجد سجدتين بعدما سلم" (البخاري ج 1/ كتاب أبواب السهو باب 2/1168) ولأنه لا يمكن الاحتراز منه.
Penambahan pada perbuatan shalat:
(1) Jika perbuatan tersebut termasuk jenis perbuatan shalat, seperti menambah ruku' atau perbuatan lainnya dari rukun-rukun yang bersifat fi'li (perbuatan), maka:
a. Jika dilakukan dengan sengaja, shalatnya batal, baik penambahan itu sedikit atau banyak, karena hal itu berarti mempermainkan shalat.
b. Jika dilakukan karena lupa, shalatnya tidak batal, baik penambahan itu sedikit atau banyak, berdasarkan hadits Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW shalat Dzuhur lima rakaat, lalu ditanya, "Apakah shalat ditambah?" Beliau bersabda, "Apa itu?" Mereka berkata, "Engkau shalat lima rakaat." Maka beliau sujud dua kali setelah salam (HR. Bukhari, 1/1168, Kitab Abuab Al-Sahwu, Bab 2).
Hal ini juga karena tidak mungkin untuk menghindarinya (lupa).
Catatan:
- Penambahan rukun qouli (perkataan) tidak disamakan dengan penambahan rukun fi'li (perbuatan), sehingga mengulang bacaan Al-Fatihah tidak membatalkan shalat karena tidak mengubah susunannya, karena itu adalah pengulangan dzikir, seperti membaca surat setelah Al-Fatihah dua kali.
- Pengecualian untuk ini adalah salam, jika ditambah dengan sengaja maka membatalkan shalat.
(2) أما إن لم يكن العمل من جنس الصلاة، كالمشي والضرب وإصلاح الرداء والإشارة:
آ- فإن كان قليلاً لم تبطل صلاته عمداً فعله أو سهواً إلا إذا قصد به اللعب، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر المصلي بدفع المارين بين يديه، على ما قدمنا، وأمر بقتل الأسودين، الحية والعقرب، في الصلاة (انظر أبو داود ج 1/ كتاب الصلاة باب 169/921) وحمل أمامة بن أبي العاض فكان إذا سجد وضعها فإذا قام رفعها (انظر مسلم ج 1 / كتاب المساجد ومواضع الصلاة باب 9/41) وقد جاوب بعضهم على حمله صلى الله عليه وسلم أمامة باحتمال طهارة ثيابها، أو أن ذلك من خصوصياته ث أما لو ركب طفل على ظهر مصل مع تحقق نجاسة ثيابه فإن صلاته تبطل، بخلافه مع يقين الطهارة فإن ذلك لا يضر) وسلم عليه الأنصار فرد عليهم في الصلاة باسطاً كفه جاعلاً بطنه أسفل وظهره إلى فوق (انظر أبو داود ج 1/كتاب الصلاة باب 170/927)
ولأن المصلي لا يخلو من عمل قليل، فلم تبطل صلاته بذلك.
ب- وإن كان كثيراً - بأن مشى خطوات متتابعات، أو ضرب ضربات متواليات - بطلت صلاته عمداً فعله أو سهواً لأنه لا تدعو إليه الحاجة في الغالب.
(2) Jika perbuatan tersebut bukan termasuk jenis perbuatan shalat, seperti berjalan, memukul, memperbaiki pakaian, dan memberi isyarat:
a. Jika perbuatan tersebut sedikit, maka shalatnya tidak batal, baik dilakukan dengan sengaja atau lupa, kecuali jika dimaksudkan untuk bermain-main. Hal ini karena Nabi SAW memerintahkan orang yang shalat untuk menghalangi orang yang lewat di depannya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Beliau juga memerintahkan untuk membunuh dua hewan hitam, yaitu ular dan kalajengking, dalam shalat (lihat Abu Dawud, 1/921, Kitab Shalat, Bab 169). Beliau juga membawa Umamah binti Abu al-'As, dan jika sujud, beliau meletakkannya, lalu jika berdiri, beliau mengangkatnya (lihat Muslim, 1/41, Kitab Masjid dan Tempat Shalat, Bab 9).
Sebagian ulama menjawab bahwa membawa Umamah oleh Nabi SAW mungkin karena pakaian Umamah suci, atau itu adalah kekhususan bagi Nabi SAW. Namun, jika seorang anak kecil naik ke punggung orang yang shalat dan diketahui bahwa pakaian anak itu najis, maka shalatnya batal. Berbeda jika yakin pakaian anak itu suci, maka hal itu tidak membatalkan shalat.
Para sahabat Anshar memberi salam kepada Nabi SAW, dan beliau menjawab salam mereka dalam shalat dengan membentangkan telapannya, menjadikan bagian dalam telapak tangan di bawah dan punggung tangan di atas (lihat Abu Dawud, 1/927, Kitab Shalat, Bab 170). Hal ini karena orang yang shalat tidak mungkin tidak melakukan sedikit gerakan, sehingga shalatnya tidak batal karena itu.
b. Jika perbuatan tersebut banyak, seperti berjalan beberapa langkah berturut-turut atau memukul beberapa kali berturut-turut, maka shalatnya batal, baik dilakukan dengan sengaja atau lupa, karena biasanya tidak ada kebutuhan untuk melakukan hal itu dalam shalat.
وضابط الكثير يرجع فيه إلى العادة، فلا يضر ما يعده الناس قليلاً، كالإشارة برد السلام، وخلع النعل، ورفع العمامة ووضعها، ولبس ثوب خفيف ومزعه، وحمل صغير ووضعه. قالوا: وعليه فالفَعَلات الثلاث كثير بلا خلاف، ولا يشترط أن تكون الأفعال الثلاثة من نوع واحد فمثلاً إذا حرك رأسه ويده ومشى اعتبر ذلك عملاً كثيراً يبطل الصلاة.
ومن العمل الكثير الوثبة الفاحشة المفردة، وكذا تحريك البدن كله أو معظمه، ولو من غير نقل قدميه، والضربة المفرطة.
Patokan untuk menentukan perbuatan yang banyak (yang membatalkan shalat) kembali kepada kebiasaan ('urf), sehingga tidak membatalkan shalat jika dianggap sedikit oleh masyarakat, seperti:
- Membalas salam dengan isyarat
- Melepas sandal
- Mengangkat dan meletakkan turban (semacam penutup kepala)
- Memakai pakaian ringan dan melepasnya
- Mengangkat anak kecil dan meletakkannya
Ulama mengatakan, berdasarkan hal ini, tiga perbuatan (yang berturut-turut) dianggap banyak dan membatalkan shalat tanpa ada perbedaan pendapat. Tidak disyaratkan bahwa ketiga perbuatan itu harus dari jenis yang sama. Misalnya, jika seseorang menggerakkan kepala, tangan, dan berjalan, maka itu dianggap sebagai perbuatan banyak yang membatalkan shalat.
Termasuk perbuatan banyak yang membatalkan shalat adalah:
- Melompat dengan sangat tinggi sekali saja
- Menggerakkan seluruh atau sebagian besar badan, meskipun tidak memindahkan kaki
- Memukul dengan keras sekali
وشروط إبطال الصلاة في العمل الكثير:
(1) التتابع عرفاً، كأن لا يطمئن بين الفعلين.
(2) أن يكون الفعل بعضو ثقيل، فإن كان بعضو خفيف، فلا يبطل الصلاة كتحرك أصابعه، كل أصبح بمفردها، من غير تحريك الكف (أما تحريك الأصابع جميعها بحيث يتحرك معها الكف كما هو الغالب، فإنه يضر مع التوالي) في سبحة أو حكة أو حل أو عقد أو تحريك لسانه، أو شفتيه من غير تحريك الحنك، أو تحريك حاجبيه أو أجفانه فكل هذه الحركات لا تبطل ولو كثرت متوالية، لكن يكره إن تعمده.
[درية العيطة، فقه العبادات على المذهب الشافعي، ٣٣١/١]
Syarat-syarat yang membatalkan shalat karena perbuatan banyak adalah:
(1) Berturut-turut menurut 'urf (kebiasaan), yaitu tidak ada kekhusyukan di antara dua perbuatan.
(2) Perbuatan itu dilakukan dengan anggota badan yang berat. Jika dilakukan dengan anggota badan yang ringan, maka tidak membatalkan shalat, seperti menggerakkan jari-jarinya, masing-masing secara terpisah, tanpa menggerakkan telapak tangan.
Namun, jika menggerakkan semua jari sehingga telapak tangan ikut bergerak (seperti biasanya), maka hal itu membatalkan shalat jika dilakukan berturut-turut, seperti:
- Menggerakkan jari saat menghitung tasbih
- Menggaruk
- Melepaskan atau mengikat sesuatu
- Menggerakkan lidah atau bibir tanpa menggerakkan rahang
- Menggerakkan alis atau kelopak mata
Semua gerakan ini tidak membatalkan shalat meskipun dilakukan berturut-turut, tetapi makruh jika dilakukan dengan sengaja.
[Referensi: Duryah al-'Atiyah, Fiqh al-'Ibadat 'ala al-Madzhab as-Syafi'i, 1/331]
Komentar
Posting Komentar